implementasi ERP: antara kebutuhan dan keinginan

Ditulis oleh Titik Parwati Hesti
MILIS KOMTEK : KOMPUTER-TEKNOLOGI@yahoogroups.com

Mungkin ini sekedar pengalaman pribadi dan agak bersifat subyektif.
pertama kali saya mengenal ERP adalah ketika teman saya mendemokan
program IFS, sebelumnya saya belum tahu apalagi kenal dengan ERP.
Kesan saya waktu itu adalah bahwa ERP adalah sesuatu yang kompleks dan
membingungkan. Tapi setelah didemokan oleh teman saya tersebut saya
baru merasakan bahwa ERP sangat menarik. Satu hal yang tidak menarik
dari ERP adalah harganya yang MAHAL. Kemudian saya mengenal Axapta,
saya mengenal Axapta karena kebetulan di tempat saya akhirnya memilih
Axapta. Terlepas dari harganya yang mahal (setidaknya menurut saya),
kelebihan Axapta sebagaimana yg dipromosikan oleh implementor waktu
itu adalah “Dengan Axapta Kita Bisa Membuat Kemampuan ERP menjadi Tak
Terbatas”. Memang harus diakui kemampuan kustomisasi Axapta
luarbiasa, setidaknya dari hasil demo waktu itu.

Singkat cerita akhirnya kami mengimplementasikan Axapta, dengan
target yg waktu itu menurut saya agak muluk2, yaitu menyesuaikan
Axapta dengan bisnis proses yang ada ditempat saya (Tapi konsultan
kami menyatakan kesanggupan)

. Waktu terus berlalu tidak terasa hampir
setahun, dan hasil yg dijanjikan masih jauh dari sempurna. memang
bisa di kustomise sana-sini, tapi mengakibatkan timbulnya bug
sana-sini. Akhirnya pihak manajemen memutuskan untuk tidak
melanjutkan proyek ERP.

Kemudian saya mengenal lagi SAP, saya mengenal SAP dari Kang Yayan
dan Pak Syarwani cs. Saya mengenal IFS, Axapta, dan SAP pada situasi
yang berbeda. Saya mengenal IFS dari teman saya yg juga implementator
sehingga begitu memblow-up segala kemampuan IFS-nya. Beitu juga saya
mengenal Axapta dari seorang Implementaor yg memang punya misi agar
bisa berhasil masuk ditempat saya, sehingga sangat memblow-up dan
membanggakan kemampuan Axapta dalam melakukan kustomisasi. Sedangkan
saya mengenal SAP dari KY dan Pak Iwan ketika mengikuti traning SAP.
Apa bedanya? jelas beda. Kalau yg satu terlalu memblow-up karena ada
misi khusus, sedangkan Ky cs dari sisi yg realistis. kang Yayan saat
itu tegas2 menyarankan agar mengikuti best practice terlebih dahulu.
Dan melarang untuk melakukan kustomisasi sebelum yakin bahwa yg
melakukan memang bener2 mumpuni. dan KY juga melarang terlalu banyak
melakukan customisasi kalau menerapkan ERP.

Berangkat dari bekal ilmu yang diberikan Ky tersebut saya dengan nekad
mencoba untuk implementasi ERP lebih tepatnya Adempiere.

Dan saya juga sering meminjam istilah KY ketika sedang implementasi
Adempiere, yaitu SAP aja meyuruh menggunakan Best Practice :D. Maka
sayapun sangat menyarankan untuk melakukan Best Practice ketika
implementasi Adempiere.

Dan hasilnya januari kemarin sudah mulai Go Live, tetapi tentu saja
masih pararel.

Pelajaran yg saya petik adalah sbb:

1. Secara garis besar Hampir semua ERP punya kesamaan, tapi untuk
setiap tahap detilnya, berbeda. Ini yang saya maksudkan jika kita
melihat secara garis besar alur bisnis proses antar produk ERP. Jadi
kira 80% bisnis proses ERP hampir sama, 20%nya yg merupakan asesoris
berbeda. nah yg 20% ini yg dimainkan oleh masing2 brand ERP. Tapi
secara prinsip sebenarnya ERP itu hampir sama.

2. Jangan terjebak dengan kemampuan ERP dalam melakukan kustomisasi,
pilih jalan aman dengan menggunakan pendekatan best practice dulu.

Dari kesimpulan ini saya tidak memungkiri bahwa SAP merupakan ERP yg
sangat hebat dan Axapta juga terutama dalam melakukan kustomisasi.
Tapi apakah semua perusahaan membutuhkan SAP, Oracle, atau Axapta?
Dan Apakah semua perusahaan mampu membeli aplikasi yg harganya wah
tersebut? Saya yakin pasti banyak yg tidak mampu.

Analogi seperti ini mirip ketika kita memutuskan apakah ingin membeli
mercy, bmw, kijang, atau bahkan sepeda. jawabannya tergantung
kebutuhan. dan bukan tergantung keinginan.

Dan menurut pengalaman pribadi ternyata menggunakan Adempiere malah
saya anggap cukup untuk penggunaan sehari-hari. memang kalau bicara
keinginan, pinginnya sh pakai SAP 😀 tapi apa daya tidak terjangakau.
Pinginnya beli mercy tetapi hanya cukup beli sepeda dan itupun
sekedar untuk ke pasar yg jaraknya cuma 2 km.

Jadi ini saja dulu pengalaman pribadi saya, yang pinginnya
menggunakan SAP tapi cuma mampu menggunakan Adempiere. dan
alhamdulillah ternyata jalan dan mulus.

Advertisements

3 Comments »

  1. nugroho said

    hi, saya masih awam tentang software erp, mohon berbagi informasi mengenai software erp dengan saya.

    thanks

  2. priscilla said

    yah SAP memang terkenal lebih mem-push client untuk ikut dengan BEST PRACTICE nya. dan terkenal sulit di kustom.
    dari semua ERP yang pernah bapak tau, yang mana yang lebih Ok?
    Oracle blm pernah liat yah,Bu?

    • zhiachandra said

      walah lama sekali g mampir di blog nih :)..

      mba priscilla, klo menurut saya sih, klo di tanya yang paling ok, adalah ERP yang paling cocok dengan bisnis yang dijalankan ;).
      *karena kebanyakan aplikasi ERP *cendrung memaksakan tiap perusahaan untuk mengikuti bisnis proses(*baca : best practice) nya si nyang bikin ERP 🙂
      jadi klo mana yang paling ok.. variable utamanya adalah perusahaan itu sendiri .. 🙂 mana aplikasi yang lebih sesuai dengan bisnis proses nya 🙂

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: