” Zhia “

May 13, 2008

Zaman Pemaknaan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — zhiachandra @ 2:06 pm

Dunia di Era Komputer

Biarkan komputer menyelesaikan masalah-masalah teknis kita. Begitu
kira-kira pesan Daniel Pink dalam buku terbarunya A Whole New Mind (2005).
Pesannya belum selesai. Pink melanjutkan, yang benar-benar penting bagi
manusia adalah pemaknaan; bagaimana membuat makna.

Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh komputer. Selain itu, keindahan,
empati, dan keceriaan juga merupakan ciri- ciri manusiawi yang tak dimiliki
komputer; kualitas-kualitas yang memungkinkan manusia melakukan berbagai
inovasi dan menghindarkannya dari komoditisasi menjadi saingan mesin-mesin.

Kualitas-kualitas itu pula yang memungkinkan orang mampu membuat konsep,
representasi benda-benda di pikiran manusia; baik benda konkret maupun
abstrak, benda nyata maupun imajiner. Manusia mampu membuat representasi
kognitif dari berbagai hal yang belum ada dalam kenyataan, mampu
membayangkan masa depan.

Ini mengingatkan saya kepada Ernst Cassirer (1944) dalam An Essay on Man.
Manusia adalah makhluk simbolik, kemampuannya mencipta dan mengolah lambang
menjadikannya unggul dari organisme lain, menjadikannya makhluk beradab dan
berbudaya. Kemampuan simbolik itu yang memungkinkan manusia mampu membuat
konsep, menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, menyusunnya menjadi
cerita; rangkaian peristiwa yang dimaknai berdasarkan urutan kejadiannya.

Sekarang, kata Pink, adalah zaman konseptual. Kemampuan membuat konsep
merupakan kelebihan manusia yang tak tergantikan oleh apa pun. Komputer
mampu melakukan empat miliar perhitungan setiap detik tanpa merasa lelah
atau jenuh. Bagaimana kita menyainginya? Perlukah kita bersaing dengan
komputer?

Jawaban Pink: tidak perlu! Biarkan komputer menyelesaikan masalah-masalah
teknis dan klerikal serta pekerjaan rutin lainnya. Urusan manusia adalah
membuat konsep; memaknai berbagai hal yang ada di sekelilingnya; membuat
makna-makna baru; membuat dunia lebih indah, hangat dan ceria. Menjadikan
dunia sebagai tempat yang manusiawi.

Belahan (hemisphere) kanan otak manusia diduga merupakan sumber dari
kualitas-kualitas manusiawi itu. Tentu saja belahan ini berfungsi secara
integratif dengan bagian-bagian lain sistem syaraf manusia. Fungsi kreatif
dan relasional be-’ranah’ di belahan otak ini. Kreativitas memberi daya
untuk menemukan hal-hal baru yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Fungsi relasional menghasilkan kemampuan membina hubungan interpersonal,
membentuk kebersamaan intersubyektif yang meleluasakan kehidupan bersama
bagi subyek-subyek anggotanya. Kreativitas didasari oleh kemampuan
membayangkan sesuatu yang belum ada atau dengan kata lain membuat
konsep-konsep baru, serta membayangkan sesuatu yang lebih baik, lebih indah,
daripada yang ada sekarang.

Kemampuan membuat konsep yang didasari oleh kemampuan memberi dan mencipta
makna, juga kemampuan menikmati keindahan, empati, serta memandang dunia
seisinya sebagai hal yang menyenangkan, tampil jelas dalam penceritaan
(storytelling). Kemampuan manusia membuat cerita, lalu menyampaikannya, juga
mengambil pelajaran dari sana, merupakan implikasi dari kemampuan manusia
membuat konsep, menghayati keindahan, empati, dan keceriaan.

Cerita, sesuatu yang kita akrabi sejak kecil, mengandung konsep-konsep yang
terangkai sedemikian rupa menjadi jalinan makna yang menggugah dan
menyenangkan. Cerita yang menarik memanfaatkan kualitas-kualitas manusiawi
itu.

Zaman Konseptual

Menamakan zaman kini sebagai zaman konseptual berarti memahaminya sebagai
zaman penceritaan. Ini tidak berlebihan jika kita cermati apa yang
ditunjukkan oleh Deirdre McCloskey dan Arjo Klamer (1995) dalam esei mereka
“One Quarter of GDP is Persuasion (in Rhetoric and Economic Behavior)” yang
dimuat dalam American Economic Review. Di sana dinyatakan, 28 persen dari
GNP di Amerika Serikat diperoleh dari persuasi yang kebanyakan isinya adalah
penyampaian cerita. Lewat penceritaan, orang-orang di sana melakukan
aktivitas senilai 1,8 triliun dollar AS, jumlah yang sama sekali tidak
sedikit.

Laurence Prusak dalam buku Storytelling in Organizations (ditulis bersama
oleh Brown, Denning, Groh, & Prusak, 2005) menjelaskan apa yang membuat para
CEO dibayar mahal: mereka bercerita. Dikutipnya Jack Welch, mantan CEO
perusahaan multinasional General Electric yang semasa mahasiswa nilainya
rata-rata C+. Welch menjadi CEO asal Irlandia yang sukses dan ternama karena
kemampuannya bercerita. Prusak menunjukkan kebenaran ucapan itu. Dengan
kemampuan bercerita yang kuat, orang bisa menyampaikan cerita ke Wall
Street, bursa efek terbesar di dunia. Di sana, penceritaan itu akan
menghasilkan implikasi ekonomi dan finansial yang hebat, punya implikasi
praktis yang besar. Intinya, menurut Prusak, cerita punya peran yang besar
dalam pengembangan budaya, organisasi, bisnis, ekonomi, dan masyarakat.

Sejalan dengan semua yang saya sebut tadi, Jerome Bruner, ahli psikologi
kognitif yang belakangan menjadi tokoh penting dalam psikologi pendidikan
dan psikologi budaya, menyatakan bahwa cerita merupakan unsur utama yang
membentuk pikiran. Dasar dari pembuatan dan penyampaian cerita adalah fungsi
naratif, pemahaman berdasarkan urutan waktu, berorientasi kepada tindakan
dan pikiran yang mengarah kepada pengenalan terhadap detail. Dengan mode
naratif, pikiran mengambil bentuk cerita dan drama yang menggugah.

Lebih jauh lagi, Bruner (1991) menjelaskan bahwa cerita dan penceritaan
sebagai produk budaya merupakan media yang paling berperan dalam
pengembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Dalam risalahnya, “The
Narrative Construction of Reality”, Bruner berargumen bahwa struktur pikiran
mendapatkan pemahaman realitas melalui perantaraan produk-produk kultural
seperti bahasa dan sistem simbolik lainnya. Produk- produk itu tersusun dari
naratif yang merupakan produk kultural, sekaligus juga pembentuk kebudayaan.

Kebudayaan terbentuk dan tampil bersama dalam hubungan dialogis-mutualistik
di antara individu yang menjadi warganya. Peristiwa-peristiwa yang dialami
oleh individu diberi makna sedemikian rupa dan dirangkai menjadi cerita yang
membentuk kebudayaan dari orang-orang yang mengalaminya.

Zaman Penceritaan

Paralel dengan kemampuan membuat konsep, kemampuan membuat dan menyampaikan
cerita serta mengambil pelajaran dari cerita pun merupakan keunggulan
manusia yang tak dimiliki oleh makhluk lain. Jika abad ke-21 disebut sebagai
zaman konseptual, maka itu sekaligus juga sebagai zaman penceritaan.
Penggunaan cerita dalam berbagai bidang kehidupan, baik yang ilmiah maupun
nonilmiah, menjadi metode dan media penting dalam proses perolehan
pengetahuan, lebih jauh lagi dalam peningkatan kesejahteraan hidup manusia.

Penekanan pentingnya naratif dalam hidup manusia bukan sesuatu yang
berlawanan dengan sains, melainkan pelengkapan proses perolehan pengetahuan.
Sains dengan analisis yang menggunakan inteligensi menghasilkan kemajuan dan
memberi kontribusi dalam kehidupan manusia jelas kita perlukan. Naratif
dengan dasar pemahaman menyeluruh terhadap realitas menghasilkan kemampuan
memahami dan memaknai secara lebih komprehensif, kreatif, dan simpatik, juga
diperlukan.

Teori-teori yang didasari berbagai fakta yang ditemukan sains pada akhirnya
perlu dirangkai jadi cerita yang dapat dipahami, dimaknai, dan dimanfaatkan
dalam keseharian manusia. Untuk merangkainya diperlukan fungsi berpikir
naratif. Sains perlu terus berkembang menjalankan perannya meningkatkan
kesejahteraan manusia.

Hasil-hasil dari sains dan naratif dapat diterapkan dalam bentuk teknologi
yang membantu meringankan beban hidup manusia. Teknologi bukan gantungan
mutlak hidup manusia. Hidup manusia seharusnya diperkaya dan diperdalam oleh
teknologi, bukan dikacaukan dan dilemahkan.

Komputer sebagai perwujudan teknologi pun demikian. Ia berfungsi untuk
membantu menyelesaikan masalah-masalah teknis dan rutin, sehingga manusia
punya waktu lebih banyak untuk memperkaya dan memperdalam hidupnya. Kembali
kepada pesan Pink, biarkan komputer menyelesaikan masalah- masalah teknis
dan rutin. Mari kita perkaya hidup dengan pemaknaan yang mendalam, kreatif,
hangat, dan riang….

Bagus Takwin
*Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia *

May 8, 2008

Memilih Satria “ERP” Idaman

Filed under: ERP, ERP Implemetation — Tags: — zhiachandra @ 10:13 am

Memilih ERP package dewasa ini tak ubahnya seperti memilih seorang “ksatria idaman” di jaman legenda kerajaan-kerajaan masa lalu, sebagaimana biasanya dikisahkan bahwa sang Raja mempunyai seorang putri yang cantik jelita, dan
sudah saatnya untuk dicarikan jodoh ksatria yang “terbaik” yang dipilih dari seluruh pelosok jagad.

Maka sang Raja menitahkan Perdana Menteri (yaitu Anda) untuk melaksanakan tugas yang maha penting ini, karena pilihan yang bagus, artinya berhasil memilih ksatria yang tepat sebagai jodoh sang putri, akan sangatmempengaruhi nasib dan kejayaan kerajaan di masa mendatang.

Ksatria yang tepat akan menjadi pelindung bagi kerajaan dari serangan
musuh, memastikan generasi penerus bagi sang Raja, dan membuahkan keturunan yang baik bagi dinasti kerajaan. Sebaliknya, memilih ksatria yang keliru (ternyata yang terpilih ternyata lelaki “memble” padahal kelihatan “perlente”) bisa menjadi bencana besar, karena memilih ksatria bagi sang putri hendaknya hanya dilakukan sekali saja, tidak diinginkan sang putri mengalami kawin-cerai yang selalu menyakitkan. Ksatria yang “salah pilih” akan menjadi buah simalakama, dipecat sebagai menantu susah, dibiarkan sebagai menantu juga salah.

Oleh karena itu Anda sebagai pemegang mandat pemilihan menantu raja perlu melengkapi diri dengan “konsep dan kriteria” yang teruji, agar dalam menyaring para ksatria calon menantu raja, benar-benar dihasilkan “satu” calon yang terbaik bagi sang putri untuk selamanya; dan itu baik juga bagi sang Raja, dan bagi masa depan kerajaan secara keseluruhan, sehingga itu
juga baik untuk menjamin jabatan Anda di samping sang Raja.

Sejak diumumkannya sayembara ( karena begitu terkenalnya kecantikan sang Putri selain nama besar kerajaan), maka berdatanganlah berbagai satria perkasa dari berbagai belahan jagad raya secara berbondong-bondong, semua menemui Anda untuk mendaftar dan mengadu nasib, yaitu melamar menjadi pasangan sang Putri Raja yang cantik jelita tadi.

Berikut adalah kriteria yang bisa Anda pertimbangkan dalam mengelola proses “sayembara” memperebutkan sang Putri Raja nan cantik jelita tersebut:

Kriteria 1:
Pemilihan awal —> Kesaktian. Senjata sakti macam apa saja
yang dikuasai sang Ksatria ? (Dalam konteks seleksi ERP: Technology Base & Functionalities. Di masa lalu ini seringkali dijadikan kriteria utama, bahkan satu-satunya, namun dengan berkembangnya kesadaran bahwa keberhasilan implementasi ERP tergantung banyak faktor, pertimbangan teknologi / fungsionalitas seringkali hanya dijadikan sebagai kriteria
prakualifikasi. Salah satu referensi yang paling banyak dipakai untuk menilai pengembang software ERP (maupun produk IT lainnya) adalah Gartner Quadrant (attachment tidak bisa dimuat, jadi saya cabut), yang menilai setiap ERP berdasarkan dua
aspek: ketajaman visi sang pengembang dalam mengantisipasikan kebutuhan masa depan, dan “user friendliness” aplikasi ERP yang ditawarkan).

Kriteria 2:
Idaman dan impian sang Putri. Sang Putri tidak sudi lagi “dijodohkan” oleh para “tetua” kerajaan, karena dia mempunyai penilaian sendiri mengenai figur ksatria idaman sebagai pasangannya. (Dalam konteks seleksi ERP: Users Requirements. Dewasa ini, berbeda dengan “era MIS” di masa lalu, penilaian users menjadi lebih dipentingkan, karena users sekarang dituntut untuk tidak sekadar menjadi “dumb data entry operators”, mereka harus menjadi pekerja yang intelligent /cerdas dan memahami proses
bisnis. Oleh karena itu dalam pemilihan ERP, pendapat key users perlu didengar sejak awal, karena merekalah yang paling berperanan dalam mendefinisikan ERP system requirements secara rinci, paling tidak yang bersifat “current” atau operational prequirements)

Kriteria 3:
Kontes Unjuk Kesaktian. Para ksatria diundang ke lapangan keraton, dan di hadapan Raja dan sang Putri dan Anda mereka diadu
satu-sama-lain, atau dihadapkan melawan algojo kerajaan, atau di suruh menunjukkan kelihaiannya dalam menggunakan senjata andalannya. (Dalam konteks seleksi ERP: Quick Simulation & Modeling. Setiap calon vendor diberikan company “real” case yang sama, dan dalam waktu yang singkat (satu / dua hari) diminta mendemonstrasikan solusinya dengan ERP mereka. Sebagaimana ungkapan “easy said than done”; yang Anda perlukan adalah “bukti dan bukan janji”, bahwa sesuatu requirements memang bisa dipenuhi. Preliminary test “kejantanan” semacam ini memberikan indikasi yang cukup akurat, apakah dalam kenyataannya nanti ERP tertentu memang handal dan fungsional, atau hanya sekadar janji gombal.

Kriteria 4:
“Bibit, Bebet, dan Bobot”. Penelusuran asal-usul keturunan, riwayat latar belakang keluarga, untuk memastikan bahwa sang Ksatria datang dari asal usul keluarga yang terhormat dan sederajat, bukan keturunan rampok; semasa remaja dia sopan dan bukan begajulan, banyak menolong rakyat, dan belajar pada guru yang sakti mandraguna. (Dalam konteks
seleksi ERP: Referencing. Barangkali ini adalah kriteria yang paling penting sebelum menjatuhkan pilihan pada ERP tertentu. Prestasi ERP bukanlah suatu kebetulan, mesti ada reputasi masa lalu yang menunjang. Ini dengan mudah bisa digali dari pada para pengguna ERP yang sama. Parameter terpenting yang perlu diperiksa antara lain: (a) dukungan service-support: keahlian,
kecepatan, ketanggapan / respons, dan biayanya; (b) pengalaman users dalam menggunakan ERP: stabilitas sistem, kemudahan, performance, customization, flexibility ; (c) Total Cost of Ownership (TCO): kita bisa terkecoh bahwa
biaya atau investasi awal ternyata tidak mencerminkan total atau future cost, dan ini akan mempengaruhi ROI dari ERP yang kita pilih. Vendor bisa saja menawarkan “angin surga”, namun pendapat “user” lain jauh lebih bisa dipercaya sebagai referensi Anda. Tanpa melakukan referencing Anda menanggung resiko yang tidak perlu.

Pada saudara Perdana Menteri, diucapkan “selamat” bersayembara..

Kristanto Santosa
from Milis KOMTEK

Blog at WordPress.com.